MBMINVESTIGASI.COM, Jakarta, 28 Oktober 2026 – Setiap 28 Oktober, kita bersumpah tentang persatuan. Ironisnya, sebagian elite justru memelihara perpecahan demi kekuasaan, sementara rakyat menanggung akibatnya.
Sumpah Pemuda pun berisiko menjadi seremoni tahunan: dibacakan dengan lantang, dirayakan dengan bangga, tetapi dilupakan ketika kepentingan politik mulai berbicara.
Pada 1928, para pemuda berani melampaui sekat kedaerahan demi cita-cita Indonesia. Mereka memilih masa depan bersama daripada terkurung dalam kebanggaan kelompok.
Kini, ketika Indonesia telah berdiri sebagai negara merdeka, mengapa sebagian dari kita justru sibuk membangun tembok di antara sesama anak bangsa?
Di media sosial, perbedaan pendapat berubah menjadi caci maki. Dalam politik, identitas kerap dijadikan alat untuk menanamkan kecurigaan.
Lawan tidak cukup dikritik; mereka harus direndahkan, bahkan dianggap tidak layak menjadi bagian dari bangsa ini.
Kita harus membedakan demokrasi dari politik kebencian.
Berbeda pilihan adalah hak. Mengkritik pemerintah adalah bagian dari tanggung jawab warga negara. Namun, mengadu domba masyarakat demi mempertahankan kekuasaan adalah kemunduran, bukan prestasi politik.
Bangsa ini tidak kekurangan slogan. Yang sering kurang ialah keteladanan, keberanian moral, dan kesediaan menempatkan kepentingan rakyat di atas ambisi kekuasaan.
Namun, Indonesia tidak boleh menyerah kepada pesimisme.
Banyak anak muda terus bergerak: melawan hoaks, menolong sesama, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun komunitas tanpa mempersoalkan latar belakang orang yang mereka bantu.
Di tengah kebisingan politik, tindakan-tindakan sederhana itu membuktikan bahwa harapan masih hidup.
Generasi muda tidak harus mewarisi kebencian masa lalu.
Mereka dapat membangun budaya politik yang lebih sehat, mengoreksi kekuasaann hafiz secara kritis, dan menolak manipulasi identitas.
Indonesia membutuhkan persaudaraan yang nyata, keadilan yang dirasakan, serta kesempatan yang terbuka bagi semua.
Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah tugas yang belum selesai. Kita boleh berbeda dalam memilih pemimpin dan berdebat tentang masa depan, tetapi jangan membiarkan perbedaan merampas kemampuan kita untuk bekerja demi kepentingan bersama.
Pada 28 Oktober ini, mari berhenti sekadar mengagumi keberanian pemuda 1928. Mari meneruskannya melalui tindakan nyata.
Di Indonesia tidak membutuhkan generasi muda yang hanya pandai mengulang sumpah. Indonesia membutuhkan generasi yang berani membuktikan bahwa politik tidak harus dibangun di atas kebencian dan masa depan tidak harus dikorbankan demi kekuasaan.
Jangan biarkan Indonesia kalah oleh kebencian. Sumpah Pemuda harus menjadi janji yang kita tunaikan, bukan slogan yang kita ulangi. 🇮🇩
(Drs. Syahrudin Darwis, M.Pd.)

















