MBMINVESTIGASI.COM, Jakarta, 4 Oktober 2026 –
Festival Olahraga Rakyat (FOR) Jakarta 2026 bukanlah tujuan akhir. Ukuran keberhasilannya justru ditentukan setelah panggung dibongkar: apakah semangat 10.000 warga yang berkumpul di Jakarta International Velodrome itu berubah menjadi kebiasaan bergerak dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab olahraga masyarakat bukan tentang siapa yang menang, melainkan tentang bagaimana sebanyak mungkin warga menjadikan olahraga sebagai bagian dari keseharian.
Minggu kemarin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka FOR Jakarta 2026 yang diikuti sekitar 10.000 warga dari 70 induk olahraga rekreasi.
Pesannya jelas: “olahraga bukan sekadar lomba, tetapi ruang kegembiraan, silaturahmi, dan kebersamaan. Olahraga tak boleh menjadi milik atlet saja. Ia harus menjadi napas keseharian warga.
Jakarta pun tidak cukup hanya menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olahraga. Jakarta perlu menjadi kota yang hidup dan bergerak. Pada saat yang sama, KORMI DKI dipersiapkan menghadapi Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) IX di Palu, Sulawesi Tengah, 2027.

Namun, sekali lagi, pesta bukan tujuan.
Ketua KORMI DKI Jakarta Diana Dewi mengingatkan bahwa kemeriahan bukan ukuran utama. “Festival boleh selesai, semangat bergerak tidak boleh berhenti.
Kalimat itu penting. Sebab setiap festival memiliki akhir. Panggung akan dibongkar, spanduk diturunkan, musik berhenti, dan peserta kembali ke rumah. Pertanyaan sesungguhnya kemudian muncul: apakah warga tetap bergerak ketika tidak ada panggung dan tidak ada yang menonton?
Di situlah olahraga masyarakat menemukan maknanya.
Olahraga harus mudah, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan warga. Bukan kewajiban yang membebani, apalagi kemewahan yang hanya bisa dinikmati sebagian orang. Kepala Dispora DKI Jakarta Andri Yansyah menegaskan prinsip Sports for All: olahraga harus dapat diakses dan dilakukan oleh semua warga.
Tujuh puluh induk olahraga yang hadir memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda untuk bergerak. Ada olahraga kebugaran, olahraga tradisional dan budaya, serta olahraga petualangan dan tantangan. Keragaman itu penting agar warga tidak merasa olahraga sebagai sesuatu yang jauh, rumit, atau hanya untuk mereka yang memiliki kemampuan tertentu.
Karena itu, keberhasilan FOR Jakarta semestinya tidak berhenti pada jumlah peserta atau kemeriahan acara. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi sesudahnya.
Berapa banyak warga yang tetap berjalan kaki? Berapa banyak keluarga yang kembali berolahraga bersama? Berapa banyak komunitas yang menghidupkan taman dan ruang publik dengan kegiatan olahraga?
Tantangan sebenarnya datang setelah panggung dibongkar.
Semangat ribuan orang di Velodrome baru benar-benar bermakna jika dibawa pulang ke lingkungan masing-masing. Olahraga masyarakat tidak berhenti ketika acara usai. Ia justru baru hidup ketika warga sadar bahwa bergerak tidak membutuhkan undangan, panggung, atau medali.
Cukup berjalan bersama tetangga. Bermain bersama anak. Senam bersama keluarga. Menghidupkan ruang publik dengan tubuh yang bergerak dan perjumpaan yang sehat.
Sebab kota yang sehat bukan semata-mata kota yang memiliki banyak arena olahraga. Kota yang sehat adalah kota yang warganya menggunakan ruang itu untuk bergerak.
Maka Jakarta tidak membutuhkan olahraga untuk warga semata.
Jakarta membutuhkan olahraga dari warga, oleh warga, dan untuk kesejahteraan warga.
Sebab olahraga yang paling penting bukan yang paling ramai ketika panggung menyala, melainkan yang tetap dilakukan ketika panggung sudah gelap. . ( Syahrudin Darwis)














