MBMINVESTIGASI.COM, Jakarta. – Pencak silat mungkin akan semakin sering menjadi juara dunia, tetapi belum tentu selamat sebagai warisan budaya di negerinya sendiri.
Ironinya, ketika dunia mengakui pencak silat melalui UNESCO, kita justru bisa terjebak pada cara pandang yang terlalu sempit: mengukur kejayaannya dari jumlah medali. Kamera menyala ketika atlet naik podium, lagu kebangsaan berkumandang ketika emas diraih, lalu prestasi dihitung seperti laporan produksi. Setelah itu, kita merasa tugas selesai.
Padahal UNESCO tidak mengakui pencak silat semata-mata sebagai olahraga pertandingan.
Pencak silat Indonesia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO pada 2019, yang mencerminkan tradisi, nilai, pengetahuan, dan praktik budaya yang hidup dalam masyarakat.
Di situlah persoalannya.
Medali bisa menghitung kemenangan.
UNESCO mengingatkan kita tentang warisan.
Pencak silat tidak lahir dari podium. Ia lahir dari perguruan, padepokan, kampung, halaman rumah, dan hubungan guru-murid. Ia diwariskan bukan dengan sertifikat juara, melainkan dengan latihan, disiplin, adab, keteladanan, dan ingatan antargenerasi.

Maka pertanyaannya sederhana tetapi tidak nyaman: jangan-jangan kita sedang terlalu sibuk memenangkan pertandingan, sementara perlahan-lahan kehilangan alasan mengapa pencak silat harus diwariskan?
(FR)













