mbminvestigasi.com TANAH DATAR – Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus bergerak cepat dari waktu ke waktu. Salah satu inovasi yang kini menjadi sorotan luas dan banyak digunakan adalah kecerdasan buatan atau yang lebih populer disebut dengan sebutan AI. Di antara berbagai jenisnya, ChatGPT yang dikembangkan oleh lembaga OpenAI menjadi salah satu contoh penerapan AI yang paling dikenal masyarakat saat ini.
Kini akses terhadap teknologi ini pun semakin terbuka lebar, cukup dicari melalui mesin pencari internet. Pengguna dapat memerintahkan sistem untuk menyusun berbagai bentuk tulisan, hingga melakukan pengubahan atau penyuntingan gambar sesuai keinginan yang dituliskan secara langsung.
Keberadaan alat ini membawa dampak yang sangat membantu dalam kegiatan sehari‑hari maupun pekerjaan. Secara nyata, kehadirannya mampu memangkas waktu pengerjaan tugas, menekan biaya operasional yang dibutuhkan, serta memudahkan proses pengolahan beragam jenis data dalam jumlah banyak.
Namun di balik segala kemudahan itu, kecerdasan buatan juga memiliki sisi yang perlu dicermati dengan baik. Salah satu kelemahan utamanya adalah kecenderungan untuk mengalami apa yang disebut sebagai “halusinasi data”. Hal ini sangat wajar terjadi, sebab sistem hanya bekerja berdasarkan perintah teks dan susunan kode pemrograman, yang belum tentu sama persis dengan kondisi yang ada di lapangan.
Akibatnya, tidak jarang sistem ini mengemukakan keterangan yang keliru, menyusun fakta yang sebenarnya tidak ada, atau menggabungkan informasi secara keliru hanya agar jawaban terlihat lengkap. Keakuratan isi tidak selalu terjamin hanya karena hasilnya terstruktur rapi.
Dari sisi gaya bahasa, tulisan yang dihasilkan kerap terasa kaku, standar, dan kurang memiliki kedalaman rasa. Hal ini disebabkan karena teks tersebut disusun semata‑mata mengikuti pola aturan yang sudah ditanamkan ke dalam sistem, tanpa melibatkan perasaan, empati, atau pengalaman hidup manusia.

Selain itu, kecerdasan buatan juga berpotensi meniru pola pandang, anggapan umum, atau prasangka yang sudah ada sebelumnya di dalam sumber data yang dipelajarinya. Teknologi ini juga tidak mampu turun langsung melakukan pengamatan, mewawancarai narasumber, atau memahami keunikan adat istiadat serta budaya setempat secara mendalam sebagaimana dilakukan manusia.
Menghadapi dua sisi mata uang ini, bukan berarti kita harus menolak atau menjauhkan diri dari kemajuan zaman. Justru sebaliknya, teknologi tetap bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu yang berharga. Syaratnya, setiap keluaran yang dihasilkan harus tetap diperiksa kembali, disesuaikan, dan disempurnakan ulang oleh penggunanya.
Hal ini menjadi sangat penting terutama bagi materi berita, artikel, atau tulisan yang akan disebarluaskan, baik melalui media sosial maupun media massa resmi. Intinya, kecerdasan buatan hanyalah alat bantu; tanggung jawab akhir, ketepatan fakta, serta kehalusan rasa tulisan tetap berada di tangan manusia yang menggunakannya.(TN)




