MBMINVESTIGASI.COM, Jakarta – Wacana menghentikan kenaikan kelas otomatis mulai tahun ajaran 2027/2028 patut diapresiasi, tetapi juga perlu dikritisi.
Sebab, persoalan pendidikan Indonesia bukan semata-mata siswa yang malas belajar, melainkan sistem yang lebih sibuk memastikan semua anak naik kelas daripada memastikan mereka benar-benar naik kemampuan.
Selama ini, pendidikan kita seperti punya rumus ajaib: siswa boleh belum paham pelajaran, yang penting tahun depan pindah kelas. Kompetensi bisa menyusul, pemahaman bisa dinegosiasikan, tetapi kalender akademik tidak boleh diganggu gugat.
Tahun ajaran berganti, rapor dibagikan, dan angka kelulusan tetap enak dipandang.
Kita seolah-olah sedang menyelenggarakan pendidikan, padahal jangan-jangan hanya mengelola perpindahan siswa dari kelas ke kelas.
Ketika kemampuan siswa dipersoalkan, yang pertama kali diperiksa justru kerajinan mereka: malas belajar, kurang disiplin, tidak serius. Semua kesalahan seakan bisa diringkas menjadi satu kata: siswa.
Padahal, bukankah sekolah dibangun untuk membuat anak yang belum tahu menjadi tahu, yang belum mampu menjadi mampu, dan yang tertinggal mendapat kesempatan mengejar?
Kalau semua anak harus sudah pandai sebelum masuk kelas, lalu apa gunanya sekolah?
Tentu, siswa tetap bertanggung jawab atas proses belajarnya.
Namun, menuntut tanggung jawab siswa tanpa memeriksa kualitas pengajaran, dukungan bagi guru, dan kebijakan sekolah sama saja dengan menyuruh penumpang bertanggung jawab atas perjalanan, sementara sopir, kendaraan, dan petanya tidak pernah diperiksa.
Kini, ketika kenaikan kelas otomatis hendak dihentikan, jangan sampai kebijakan ini sekadar mengganti cara menghukum.
Selama bertahun-tahun siswa diluluskan tanpa kepastian kompetensi, lalu mendadak disalahkan karena gagal memenuhi standar yang selama ini tidak ditegakkan secara konsisten.
Lebih ironis lagi jika tinggal kelas dianggap bukti keberhasilan menjaga mutu. Banyaknya siswa yang tidak naik kelas tidak otomatis menandakan standar pendidikan meningkat. Bisa jadi, itu justru menunjukkan kegagalan pembelajaran atau pendampingan
Kita tidak membutuhkan sekolah yang pandai menggagalkan siswa, melainkan sekolah yang mampu mencegah kegagalan itu sejak awal.
Di sinilah satire pendidikan kita menemukan sasarannya: siswa dituntut menguasai pelajaran, guru dibebani administrasi, sekolah mengejar indikator, dan pemerintah merayakan capaian.
Semua sibuk memenuhi target, tetapi siapa yang memastikan anak benar-benar memahami apa yang diajarkan?
Jangan-jangan, yang paling rajin dalam pendidikan kita bukan siswa belajar, melainkan sistem memproduksi laporan.
Yang paling cepat naik bukan kemampuan membaca dan bernalar, melainkan angka dalam presentasi capaian. Di atas kertas, pendidikan tampak bergerak maju; di ruang kelas, persoalan mendasar bisa saja masih tertinggal.
Karena itu, menghentikan kenaikan kelas otomatis harus disertai penilaian kompetensi yang adil, pemetaan kesulitan belajar sejak dini, perbaikan pengajaran, dan pendampingan bagi siswa yang tertinggal.
Guru pun membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar tambahan formulir dan tuntutan baru.
Standar tinggi tanpa dukungan memadai hanya menghasilkan seleksi, bukan pendidikan.
Ketegasan tanpa evaluasi diri hanyalah cara elegan memindahkan kesalahan kepada pihak yang paling lemah.
Maka, pertanyaan rajin malas sama saja, salah siapa? tidak boleh dijawab dengan menunjuk siswa semata.
Jika siswa rajin dan malas sama-sama naik kelas, mekanisme penilaiannya perlu diperiksa. Jika siswa tidak kompeten terus diluluskan, proses pembelajarannya harus dievaluasi. Dan jika siswa ditahan tanpa pernah memperoleh bantuan yang cukup, kebijakan itu pun layak dipertanyakan.
Jangan sampai selama ini sistem terlalu mudah menaikkan siswa, lalu kini terlalu mudah pula menjatuhkan mereka.
Pendidikan bukan perlombaan memindahkan anak ke kelas berikutnya atau mencari siapa yang pantas disalahkan.
Sebab, jika yang naik kelas hanya siswanya, sementara mutu pengajaran dan keberanian memperbaiki kebijakan tetap jalan di tempat, sesungguhnya siapa yang gagal naik kelas? ( Drs.Syahrudin Darwis.M.Pd.)













