mbminvestigasi.com PESAWARAN – Sejumlah pedagang yang berada di sepanjang ruas pekerjaan Rehabilitasi Jalan Gedong Tataan–Kedondong (Link. 038) Kabupaten Pesawaran mengeluhkan dampak pekerjaan konstruksi yang dinilai mengganggu aktivitas usaha mereka.
Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tersebut merupakan kegiatan Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, dengan nilai kontrak sekitar Rp4.031.000.000, sumber dana APBD Tahun Anggaran 2026, dilaksanakan oleh CV. Ganta Masani Djaya dengan waktu pelaksanaan 150 hari kalender.
Keluhan pedagang muncul akibat debu yang berterbangan setiap hari dari aktivitas pekerjaan jalan. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan warga dan pelanggan yang hendak singgah untuk membeli makanan maupun kebutuhan lainnya.
Salah seorang pedagang mengungkapkan bahwa sejak pekerjaan berlangsung, omzet dagangan mengalami penurunan cukup drastis karena banyak pembeli enggan berhenti akibat kondisi jalan yang berdebu.
“Debunya setiap hari masuk ke tempat usaha, pembeli juga banyak yang tidak mau mampir. Kami berharap pihak pelaksana memperhatikan dampak ini, minimal dilakukan penyiraman secara rutin agar debu tidak mengganggu masyarakat dan pedagang,” ujar pedagang.
Warga dan para pelaku usaha berharap pihak kontraktor pelaksana dapat menjalankan kewajibannya sesuai aturan pekerjaan konstruksi, termasuk menjaga kebersihan, kenyamanan, serta keselamatan pengguna jalan selama proses pekerjaan berlangsung.
Masyarakat juga meminta Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung selaku pihak terkait agar melakukan pengawasan dan memberikan teguran kepada pelaksana pekerjaan apabila pengendalian debu tidak segera dilakukan.
“Pembangunan jalan tentu kami dukung, tetapi jangan sampai masyarakat kecil yang mencari nafkah menjadi korban akibat dampak pekerjaan. Kami berharap ada tindakan cepat dari pihak terkait,” tambah warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana pekerjaan maupun instansi terkait masih diharapkan memberikan tanggapan terkait keluhan masyarakat tersebut (sotorus)




